Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Oleh : Dzata Iffah Nadhila
Kelas : IPII – 1A
NIM : 12310193028
Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Tulungagung
2019
Bahasa
Indonesia sebagai bahasa resmi Negara Indonesia, memiliki perjalanan panjang
untuk bisa dipakai dalam bahasa sehari hari. Menurut perkembangannya Bahasa
Indonesia dipercaya berasal dari bahasa Melayu, sehingga dapat dikatakan bahwa
Bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia atau Melayu
Polinesia.
Bahasa
Melayu merupakan salah satu bahasa yang mampu mempertahankan kedudukan sebagai
bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan juga termasuk dari golongan
bahasa di dunia yang memiliki penutur terbesar. Bahasa Melayu menjadi bahasa
nasional satu-satunya dari empat negara, yakni Brunai, Indonesia, Malaysia, dan
Singapura.
Berdasarkan
sebagian besar ahli Linguistik komparatif dan arkeolog Austronesia, tempat asal
mula bahasa Melayu Purba yang ada di Indonesia ialah wilayah bagian barat
Kalimantan. Belwood 1995 ( dalam Retno & Qoni’ah, 2015 ), tembikar India
telah disebarkan di seluruh kepulauan Nusantara selama kurang lebih 200 tahun
sebelum Masehi. Penemuan yang bisa kita lihat di masa kini adalah manik-manik
batu dari India, gendang gangsa dari Dongson, Asia Tenggara bertahun sekitar
abad ke-4 sesudah Masehi, dan timbunan patung Budha dari perak serta emas
bertahun sekitar abad ke-8 sesudah Masehi. Kesemuanya tersebut ditemukan di
Kalimantan Barat. Hal ini membuktikan adanya hubungan erat antara budaya
terpenting di dunia, India, dengan tanah asal bahasa Melayu yang memiliki
budaya air,di Kalimantan Barat.
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan asal
Perguruan Tamansiswa,Yogyakarta, mengungkapkan bahwa dasar bahasa Indonesia
ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat
Indonesia. Dengan istilah lain bahasa Indonesia akan seirama dengan perkembangan
masyarakat Indonesia dari masa ke masa. Sebagai contoh, saat diikrarkan melalui
peristiwa Sumpah pemuda (tahun 1928), bahasa Indonesia (saat itu) masih
menggunakan ejaan van Ophuijsen. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun
1947, bahasa Indonesia menggunakan ejaan Republik atau ejaan Suwandi.
Tanggal 25-27 Juni 1938 dilangsungkan Kongres
Bahasa Indonesia I di Solo. Dalam konggres itu Ki Hajar Dewantara menegaskan
bahwa "jang dinamakan 'bahasa indonesia' jaitoe bahasa melajoe jang
soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah
ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe,
hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh indonesia;
pembaharoean bahasa Melajoe hingga mendjadi bahasa Indonesia itoe haroes
dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia".
Oleh karana itu, konggres pertama ini memutuskan bahwa buku buku tata bahasa
yang sudah ada tidak memuaskan lagi, tidak seusai dengan perkembangan bahasa
Indonesia sehingga perlu disusun tata bahasa baru yang sesuai dengan
perkembangan bahasa.
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun
1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari
bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang
sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca)
bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di
Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di
Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang
datang dari luar Nusantara.
Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah
Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa
Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya
dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari
berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan
bahasa-bahasa Eropa. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan
secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi
bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober
1928). Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia
dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan
majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi
bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa
Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat
pusat maupun daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Purwandari, Retno dan Qani’ah. 2015. Buku Pintar
Bahasa Indonesia . Yogyakarta : FAMILIA.
Sudaryanto. 2018. “Tiga fase perkembangan Bahasa
Indonesia (1928-2009) kajian Linguistik Historis” dalam AKSIS : Jurnal
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 2 nomor 1, Juni 2018.
“Sekilas Tentang Sejarah Bahasa Indonesia”. badanbahasa.kemdikbud.go.id.
diakses pada 05 Maret 2019. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/627/Sekilas%20Tentang%20Sejarah%20Bahasa%20Indonesia

Komentar
Posting Komentar